Sejarah dan Perkembangan Kristen di Indonesia

Sejarah dan Perkembangan Kristen di Indonesia

Kekristenan di Indonesia bukanlah produk dari kebangunan rohani yang secara tiba-tiba, melainkan buah dari proses sejarah yang teramat panjang dan kompleks. Indonesia memiliki sekitar 24 juta orang Kristen, sekitar 10% dari populasi penduduk Indonesia.

Sesungguhnya, jauh sebelum agama Islam masuk ke Indonesia dan kemudian menjadi agama yang paling banyak dipeluk oleh rakyat Indonesia, aliran Kristen Nestorian sudah terlebih dahulu hadir di Indonesia. Umat Kristen Nestorian mendirikan sebuah gereja di Sumatera pada pada tahun 645 M, tepatnya di kecamatan terpencil di Sumatra Utara yang bernama Barus, sedangkan agama Islam sendiri baru masuk di Indonesia melalui Barus tahun 672 M.

Dalam kesempatan ini, kita akan coba mengulik sejarah masuknya agama Kristen ke Indonesia, termasuk perkembangannya (secara khusus kita akan bahas Kristen dan Protestan terlepas dari sejarah Kristen Nestorian yang sudah ada di Indonesia semenjak tahun 645 M). DI Indonesia terdapat beberapa komunitas Kristen dalam massa yang besar, di antaranya: suku Batak, Bali, Cina, Dyaks, Flores, Jawa, Minahasa, Niasian, Maluku Utara, Tengah dan Selatan, Posoan, Sangihe-Talaudans, Sumba, Timor, Toraja, Papua Barat. Masing-masing memiliki sejarah yang berbeda. 

Tentu saja kita meyakini bahwa agama kristen mulai ada di Indonesia ketika beberapa negara eropa masuk ke Indonesia. Misalnya Katolik yang diyakini disebarkan oleh Portugis ketika mereka datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah. Sementara Prostestan diyakini disebarkan oleh Belanda yang juga datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah dan bisnis perdagangan sekitar abad ke 16. Belanda sendiri memulai pencarian rempah-rempah dibeberapa titik utama, tetapi mereka lebih berfokus di bagian timur Indonesia, karena di sana lah tempat yang kaya akan rempah-rempah. Itulah mengapa di bagian wilayah timur sangat banyak penganut Kristen Protestan.

Sejarah Masuknya Agama Kristen ke Indonesia

Masuknya agama Kristen ke Indonesia memang sangat perlu untuk di teliti, terutama bagi kita yang tertarik dengan sejarah masa lampau dan kebetulan beragama Kristen. Kekristenan Indonesia merupakan salah satu topik yang paling sedikit dipahami dan diteliti dalam sejarah kekristenan. Sehubung dengan itu, maka ijinkan saya memberikan gambaran sejarah Kristen serta perkembangannya di Indonesia.

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita catat bahwa Kristen terdiri dari beberapa aliran beserta denominasinya. Tetapi, karena di Indonesia sendiri di dominasi dua aliran, yaitu Katolik dan Protestan, maka saya rasa kedua aliran inilah yang sewajarnya akan kita bahas pada topik ini. Ok, mari kita mulai berbicara sejarah agama Kristen dengan membahasnya satu persatu, yaitu Khatolik dan Prostentan.

Sejarah kristen Katolik di Indonesia

Ada catatan sejarah yang menyebut bahwasanya Katolik Roma sudah datang ke Indonesia pada tahun 1511, tepatnya di tanah Aceh. Tetapi tidak ada sumber yang konkrit untuk menyinkron sejarah ini. Saya harap suatu saat saya akan menemukan refrensi untuk membuktikan catatan sejarah ini
Seperti yang saya sebutkan diatas bahwa penyebaran Katolik berawal dari masuknya Portugis ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah. Selain mencari rempah-rempah, tujuan lain dari kedatangan mereka adalah untuk menyebarkan ajaran Katolik yang merupakan aliran kepercayaan yang melekat pada identitas mereka. 

Yang kita ketahui, bahwa kepulauan Maluku merupakan titik pendaratan Portugis dalam memulai petualangan mereka mencari rempah-rempah di Indonesia. Dari sinilah awal Katolik di Indonesia. Tepatnya di Mamunya - Maluku Utara, pembaptisan pertama kali diterima oleh Kolano yang merupakan kepala kampung saat itu, kemudian segera diikuti oleh seluruh warga kampungya pada tahun 1534. Ini merupakan buah dari pemberitaan injil oleh Gonzalo Veloso seorang saudagar dari portugis, yang memang tujuan kedatangannya untuk memberitakan injil disamping visi utama mereka mencari rempah-rempah.

Tidak lama setelah itu, Portugis mulai memperluas petualangan mereka ke berbagai wilayah Indonesia. Sampai akhirnya mereka menemukan beberapa tempat sebagai titik fokus utama dalam mencari rempah-rempah. Ketika kedudukan mereka sudah punya pengaruh yang kuat di daerah-daerah tersebut, akhrinya para imam Katolik di datang kan untuk menyebarkan agama kepada masyarakat setempat. Salah satunya yang mungkin sama-sama kita ketahui adalah misionaris Fransiscus Xaverios yang telah membaptis ribuan orang pada tahun 1546 - 1547. Santo Fransiscus Xaverios menyebarkan agama Katolik dibeberapa titik seperti: pulau Ambon, Saparua dan Ternate. Kemudian Katolik menyebar ke berbagai daerah pusat dengan relatif cepat. 
perkembangan kristen
Sesuatu yang mungkin banyak orang tidak tahu bahwa pemberitaan injil yang dilakukan oleh beberapa misionaris Portugis ini adalah: mereka melakukannya dengan damai dan tanpa konflik sama sekali. Tidak hanya fokus pada gereja, mereka juga membangun beberapa fasilitas umum seperti rumah sakit dan sekolah untuk anak-anak. Inilah yang membuat orang Indonesia percaya bahwa Katolik merupakan agama yang sempurna dan baik. Jadi itu sebabnya, mengapa banyak yang bergabung dan mulai menganut Katolik. Itulah faktor utama mengapa Katolik menyebar begitu cepat dan diterima dengan baik di beberapa daerah di Indonesia.

Meskipun mereka membangun beberapa fasilitas umum, tetapi fasilitas itu tidak hanya di peruntukan bagi orang-orang Katolik, tetapi semua orang yang tinggal di sana. Jadi siapa pun dapat menikmatinya, dan mengambil manfaatnya. Hal-hal yang penuh kasih dan perhatian dari Katolik ini membuat banyak orang mempercayainya di masa lalu. 

Sejarah Kristen Protestan di Indonesia

Protestanisme pertama kali diperkenalkan oleh Belanda pada abad 16, sehingga terpengaruh pada ajaran Calvinisme dan Lutheran. Mereka mulai menyebarkan agama sambil memperdagangkan beberapa barang yang mereka bawa terutama rempah-rempah dengan beberapa emas. Penyebaran Protestan dimulai dari pos perdagangan di beberapa daerah di Indonesia Timur, seperti Maluku misalnya.

Sama seperti Portugis, selain tujuan dalam kegiatan perdagangan, Belanda juga membawa misi untuk menyebarkan agama ke Indonesia. Pada awalnya, para pendeta bekerja untuk pemerintah (Belanda) dengan tujuan keagaamaan pemerintah. Mereka diutus untuk mengajar orang Indonesia tentang agama mereka, Protestan. Namun seketika itu, ada larangan dari pemerintah Belanda agara mereka tidak lagi mengajarkan agama kepada orang Indonesia, karena dianggap mengganggu kegiatan perdagangan dan ekomomi. Tetapi meskipun ada larangan keras dari pemerintah, para pendeta tetap mengajarkan ajaran agama. Karena pada section ini, mereka bersikeras bahwa agama dan ekonomi tidak bisa di campur aduk, keduanya merupakan hal yang berbeda. Jadi, mereka tetap melakukan pelayanan berdasarkan kepercayaan mereka itu, tanpa mendengarkan larangan dari pemerintah. Dengan begitu Protestanisme terus menyebar secara masif hingga ke beberapa bagian Indonesia.

Perkembangan Kristen di Indonesia

Ketika pengaruh Portugis sudah mulai mendominasi Indonesia timur dalam berbagai sektor, para misionaris memanfaatkan kesempatan ini untuk menjalankan misi mereka. Hal hasil, pada akhir abad 16, sekitar 20 % penduduk Maluku diklasifikasikan sebagai umat Katolik. Pengaruh mereka ini juga turut mengkristenkan penduduk bagian timur Indonesia lainnya dalam jumlah yang besar, seperti Pulau Flores dan Pulau Timor.

Namun, tidak lama berselang, ada perlawanan dari penduduk Ternate kepada Portugis ketika mereka hendak memonopoli perdagangan rempah-rempah, yang berujung terjadinya bentrok antara kedua kubu. Hal ini secara serius mengurangi pengaruh orang-orang Portugis di Kepulauan Maluku dan berakibat pada misi misionaris dalam menyebarkan paham Katolik (stagnasi).
sejarah katolik
Tidak seperti Portugis, kedatangan Belanda dengan ambisi mereka untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah jauh lebih berhasil. Bahkan kedudukan Belanda semakin kuat setelah Kesultanan Ternate mulai kehilangan kekuasaan saat itu. Disisi lain, pengaruh Portugis yang sudah melemah menimbulkan konsekuense bagi penyebaran kekristenan pada saat itu.

Kedatangan Belanda yang terpengaruh pada ajaran Calvinisme dan Lutheran, sempat memberikan gelombang yang besar dalam perkembangan Protestan di wilayah kekuasaan mereka. Banyak pengikut Komunis dan orang Tionghoa mengklaim diri sebagai orang Kristen akibat dari anti-Komunis dan anti-Konfusianisme.
Pada akhirnya juga orang Tionghoa menerima agama Kristen dan sekarang mayoritas bangsa Tionghoa adalah umat Kristen.

Pada tahun 1602 bergabunglah kelompok-kelompok dagang di Belanda menjadi sebuah persekutuan perdagangan dengan nama VOC. Kita semua tahu bahwa VOC datang ke sini untuk tujuan ekonomi, tetapi mereka membuat beberapa aturan yang berhubungan dengan agama juga. Jadi, pada abad ke-17, mereka membuat aturan: VOC harus melakukan segala sesuatu sambil menyebarkan agama Protestan, dan orang-orang di bawah kekuasaan mereka harus menganut Protestan. Karena itu, banyak orang pada saat itu mengubah agama mereka dari Katolik ke Protestan.

Setelah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berhasil mengambil alih kekuasaan politik di Indonesia, Gereja Katolik dilarang secara mutlak dan hanya bertahan di beberapa wilayah yang tidak termasuk VOC yaitu Flores dan Timor. Mereka juga mengusir imam-imam Katolik yang berkebangsaan Portugis, lalu menggantikan mereka dengan pendeta-pendeta Protestan dari Belanda.
Banyak umat Katolik yang kemudian menjadi orang protestan, seperti yang terjadi dengan komunitas-komunitas Katolik di Amboina.

Para imam Katolik yang masih bertahan di ancam hukuman mati apabila masih melakukan aktivitas berbau Katolik di wilayah kekuasaan VOC. Ini adalah saat-saat yang mengerikan, bagaimana tidak, ada beberapa imam Katolik yang di eksekusi hukuman mati. Salah satunya Pastor Egidius d'Abreu SJ, dibunuh di Kastel karena mengajar agama dan merayakan Misa Kudus pada saat di penjara. Tidak hanya imam, ada seorang Pengusaha bernama Yohannes Kaspas kratx yang ketahuan memberikan bantuan kepada iman Katolik terpaksa angkat kaki dari Batavia karena usahanya dipersulit oleh VOC. Ia dikabarkan pindah ke Makau, yang pada akhirnya meninggal di Vietnam pada tahun 1737 sebagai seorang martir.
sejarah protestan
Pada abad k-18 Belanda kehilangan kedaulatannya dikarenakan perang dahsyat yang terjadi di Eropa Barat. Perang ini ditenggerai oleh dua negara: Prancis dan Britania Raya. Pada saat itu Belanda mengalami perpecahan (keberpihakan), ada yang memihak Prancis, dan sebaliknya ada yang memihak Brtania Raya. Ini adalah saat-saat Belanda kehilangan kedaulatan, dan pada akhirnya Napoleon Bonaparte mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan kemudian digantikan oleh adiknya, Lodewijk atau Louis Napoleon, yang beragama Katolik.

Sejak saat itu politik Belanda mulai mengalami peubahan ke arah positif, kebebasan beragama mulai di akui oleh pemerintah, bahkan pada tanggal 8 Mei 1807, pimpinan Gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan dari Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda di Batavia. Pada tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari Negeri Belanda datang ke Jakarta, yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prinsen, Pr. Yang diangkat menjadi Prefek Apostolik pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr.

Kemudian Louis Napoleon mengutus Jendral Daendels (1808-1811) untuk menduduki pemerintahan Hindia Belanda menggantikan VOC yang telah bangkrut. Dibawah kepemimpinan Daendels, kebebasan beragama benar-benar di berlakukan. Dan akhirnya misi menyebarkan agama kembali dilakukan oleh iman-imam Katolik. Albertus Soegijapranata menjadi Uskup Indonesia yang pertama ditahbiskan pada tahun 1940, Kardinal pertama di Indonesia adalah Yustinus Kardinal Darmojuwono diangkat pada tanggal 29 Juni 1967. Gereja Katolik Indonesia aktif dalam kehidupan Gereja Katolik dunia. Uskup Indonesia mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II (1962-1965).

Paus Paulus VI berkunjung ke Indonesia pada 1970. Kemudian tahun 1989 Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Indonesia. Kota-kota yang dikunjunginya adalah Jakarta, Medan (Sumatera Utara), Yogyakarta (Jawa Tengah dan DIY), Maumere (Flores) dan Dili (Timor Timur).

Sementara disisi barat Indonesia seorang misionaris Jerman: Ingwer Ludwig Nommensen memegang peran pertumbuhan Kristen Protestan di Sumatera Utara, khusunya di tanah Batak. Ia memulai misi pelayanannya pada tahun 1862. Ia menjalankan pekerjaannya selama 57 tahun. 

Sebenarnya penyebaran agama di tanah Batak sudah ada pada tahun 1802-an. Pada 1824 Gereja Baptis Inggris mengirimkan dua misionar: Pendeta Burton Ward dan Pendeta Evans yang terlebih dahulu tiba di Batavia. Pendeta Evans menginjil di Tapanuli Selatan, Pendeta Burton Ward di wilayah Silindung. Sayangnya, mereka ditolak. Animesme masih kental dan kuat dalam kehidupan suku Batak.

Sepuluh tahun kemudian, dua penginjil Amerika: Samuel Munson dan Henry Lyman pun tiba di Silindung. Tapi naas, kehadiran mereka tidak diterima baik oleh masyarakat. Mereka malah mendapati ajalnya di sana setelah dibunuh oleh sekelompok orang di Saksak Lobu Pining, sekitar Tarutung. Pembunuhan dilakukan atas perintah Raja Panggalamei. Kedua missionaris dimakamkan di Lobu Pining, sekitar 20 kilometer dari Kota Tarutung, menuju arah Kota Sibolga.

Misi yang penuh pengorbanan dan sikap siap mati dalam Kristus, akhirnya Nomensen berhasil menaklukkan tanah Batak yang kental dengan paham Animesme. Nommensen menanamkan benih di tengah-tengah masyarakat Batak. Sekarang, benih-benih itu telah berbuah dengan lahirnya gereja-gereja HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GBKP dan GKPA (etc).

Sebagai buah misi zending inkulturatif, yang tidak melupakan keaslian budaya setempat dalam pelaksanaan rutinitas ibadah. Atas jasanya itu, RMG mengangkat Nommensen menjadi ephorus pada 1881 sampai akhir hidupnya dan digantikan oleh Pendeta Valentine Kessel (1918-1920). Pada 6 Februari 1904, ketika genap berusia 70, Universitas Bonn menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa. Namanya lalu ditabalkan untuk dua universitas HKBP yang ada di Medan dan Pematangsiantar yang hingga saat ini masih berdiri.
Hidup atau mati biarlah aku tinggal di tengah-tengah bangsa ini untuk menyebarkan firman dan kerajaan-Mu. Amin”
(Dr. Ingwer Ludwig Nommensen)
Itulah gambaran sejarah kekristenan di Indonesia, sekali lagi saya ingin mengatakan: Kekristenan di Indonesia merupakan buah dari sejarah yang kompleks.

Posting Komentar

0 Komentar