Ketika Agamaku Dihina

Ketika agama kristen dihina

Ketika negara lain sedang berlomba-lomba menciptakan berbagai teknologi canggih, negara kita masih sibuk mengurusi agama. Tidak heran sikap intoleran dan kebencian terhadap golongan yang tak sejalan dengan mereka masih kental di negara tercinta ini. Banyak kasus ujaran kebencian yang terjadi, saling ejek bahkan saling memusuhi bagaikan musuh bebuyutan yang memendam rasa dendam yang membara. 

Sikap intoleran memang sangat berbahaya bagi keutuhan bangsa tercinta ini, sudah banyak kasus dimana suatu negara hancur lebur akibat adanya sikap intoleran sesama anak bangsa. Sebut saja salah satunya Suriah yang lulu lanta karena isu agama, setiap kelompok mengklaim bahwa mereka lah yang benar dan menganggap kelompok yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka sebagai musuh.

Di Indonesia telah banyak terjadi kasus ujaran kebencian terutama yang berkaitan dengan agama. Penistaan agama, pembakaran gereja, penutupan gereja dan ujuran kebencian lainnya yang berkaitan dengan agama seperti contohnya menyebut kafir kepada orang-orang yang tidak sejalan dengan keimanan Meraka. Tentu saja kasus-kasus seperti ini sangat meresahkan dan tidak jarang berdampak negatif bagi mereka yang menjalin pertemanan dengan orang yang berbeda keyakinan, yang dulunya berteman mesrah kini timbul kesenjangan diantara mereka karena isu-isu agama.

Salah satu kasus yang didasari oleh agama yang sempat menyita perhatian seluruh bangsa Indonesia bahkan dunia adalah kasus penistaan agana yang dituduhkan kepada mantan gubernur DKI Jakarta Bapak Basuki Tjahaja purnama alias Ahok, yang mana jutaan orang menuntut agar beliau diproses hukum, begitu juga kasus penutupan gereja, pembakaran gereja, hingga hinaan terhadap agama Kristen sehingga menimbulkan banyak pertanyaan dari teman-teman "kenapa ketika agama kristen dinista atau dihina kalian diam saja? Kenapa ketika Tuhan kalian di perolok (disebut Tuhan kok mati lah, Alkitab dibakar lah dll) umat kristen tidak marah? Apa alasannya?

Pertanyaan di atas pernah saya terima dari seorang teman, Why? Kenapa? Begitulah dia terheran-heran. Jawabannya sih sangat simpel, pada dasarnya setiap agama punya dasar ajaran masing-masing yang telah dituangkan pada senuhs kitab. Dari segi ajaran agama tentu saja Kristen sangat tidak dibenarkan untuk memusuhi siapapun apalagi sampai membalas kejahatan dengan kejahatan, bahkan Yesus Kristus sudah memperingatkan kepada para pengikutnya "jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dulu membenci Aku daripada kamu (Yohanes 15:18). Jadi ketika kita menjadi pengikut Kristus, kita harus siap menerima kebencian dari dunia ini. Begitu juga dengan perintahNya untuk tidak membalas mereka yang berbuat jahat kepada Kita.

Kenapa Kristen tidak marah ketika agamanya dihina?

Apabila kita jadikan Alkitab sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan di atas, saya rasa Anda tidak akan mengerti dan saya yakin Anda tidak akan mengamini nya karena pada dasarnya Anda tidak percaya dengan yang namanya Alkitab. Oleh karena itu saya akan mencoba menjawab berdasarkan sisi kemanusiaan sebagai makhluk yang mempunyai akal dan nurani.

Apa yang harus dilakukan ketika agama kristen dihina?

Terus terang, saya tidak pernah peduli dengan orang-orang yang mencemooh dan menghina agama Kristen apalagi sampai menghina Tuhan yang notabene memelihara hidupnya. Itu bukan urusan saya, itu urusan beliau dengan Tuhan. Apa alasan saya untuk marah? Apakah karena membakar Alkitab? Apa karena mereka menginjak-injak salib? Wah, sayang sekali jika sebagai orang Kristen menanggapi perbuatan seperti itu secara frontal.


Seorang teman pernah mengirimkan foto screenshot seseorang sedang membakar Alkitab dengan caption "buku kafir neraka jahan*m". Gue mah cuek aja , karena menurut saya itu hak dia, yang dia bakar hak milik dia, lalu apa alasan saya untuk marah? Bukankah uang yang digunakan untuk membeli Alkitab tersebut mengunakan uang pribadinya? Lantas apa urusan saya dengan itu? Apakah karena saya seorang Kristen wajib membela Alkitab yang dia bakar?

Kalo kamu mempunyai Alkitab milikmu sendiri, lakukan apa yang hendak kau lakukan terhadap milikmu itu. Gue mah cuek aja. Seperti kalau kau bakar rumahmu sendiri, apa urusanku?

Di internet banyak sekali saya temukan artikel yang secara brutal mengutip ayat-ayat Alkitab lalu ditambahkan dengan ayat-ayat palsu lalu membuat tafsiran seolah-olah ayat Alkitab tersebut mengajarkan ajaran "sesat". Bagaimana? Apakah saya juga cuek? Tidak marah isi Alkitab diperolok? Wah benar sekali saya tidak akan marah.

Tangan yang mengetik tulisan itu tangan sendiri, laptop yang digunakan untuk mengetik laptopnya sendiri, paket internet beli sendiri, dosa ditanggung sendiri. Jadi saya rasa tidak ada alasan untuk marah kepadanya, apalagi sampai aduh jotos hanya karena hal yang tidak ada kaitannya sama kehidupan Gw.

Ada seseorang di facebook memposting gambar gereja dibakar lalu dibubuhi dengan kalimat ' yah Allah semoga orang kafir cepat binasa dari negeri ini'. Apakah saya harus marah ketika melihat gambar dan membaca kalimat doa itu?

Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin Tuhan Allah yang maha suci mendengarkan doa seperti itu? Saya malah kasihan dengan orangtuanya yang membesarkannya. Betapa kerdil jiwa dan batinnya, betapa dangkal hasrat kemanusiaannya, begitu sempitnya kemaslahatan dirinya, kasihan sekali. Saya tidak marah bahkan saya akan mengampunimu, tetapi pengampunanku tidaklah merubah apa-apa. Jadi saya berharap, semoga Tuhan yang mengampunimu, terutama mengampuni orang-orang yang mendidikmu sehingga kau menjadi manusia kerdil seperti itu.

Ketika kita sadari bahwa Tuhan alam semesta ini adalah satu, lalu apa alasan kita untuk marah ketika ada seseorang menghina Tuhan? Bukankah yang dihinanya juga Tuhan atas dirinya? Kita tidak perluh marah kepada mereka, karena ketika kita marah atas perbuatannya maka pada saat itu juga kita telah merendahkan Tuhan, secara tidak langsung kita telah menganggap bahwa Tuhan sosok yang lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika dirinya dihina.

Kemuliaan Allah adalah hakekat dasar yang melekat pada dirinya, jadi Allah itu mulia bukan karena kita muliakan. Apapun yang dilakukan oleh manusia tidak akan mengurangi atau menambah kemuliaan Allah, itu makanya Allah disebut Maha Mulia. Kalau ada orang merasa melakukan sesuatu yang membuat Allah makin mulia, itu bentuk kesombongan yang sangat tercela, dosa besar.

Berbeda dengan manusia, kemuliaan yang ada pada manusia bisa berubah tergantung perbuatan manusia itu sendiri. Membakar Alkitab lalu dengan bangga menyebarkannya ke publik, bukankah itu merupakan tindakan yang sangat bodoh? Dia membeli Alkitab lalu membakarnya dan merasa bahwa dia sudah melakukan sesuatu yang luar biasa hebatnya. Namun yang ada adalah dia telah mempertontonkan kebodohannya ke publik. Membeli Alkitab lalu membakarnya, bukankah itu tindakan yang bodoh?
kemuliaan alkitab
kemuliaan Alkitab terletak pada makna dari rangkaian kalimat didalamnya
Kemuliaan dari Alkitab bukanlah terletak pada kertas yang dicetak lalu dijilid kemudian diberi sampul yang mewah, melainkan makna dari rangkaian kalimat didalamnya. Ketika Alkitab dibakar, bukanlah masalah yang serius. Karena pada saat Alkitab kamu bakar, pada saat yang sama Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) bisa mencetak ribuan soft copy yang sama persis dengan yang kamu bakar. Jadi silahkan dibakar atau mau diapain, toh saya juga kalo Alkitab saya sudah buruk bakal saya buang ke tong sampah karena Kemuliaan dari  Alkitab itu adalah makna dari isinya bukan karena diberi sampul mewah bertinta emas, bukan karena saya jaga seperti menjaga permata, bukan karena saya elus-elus setiap hari, bukan karena saya mulia-muliakan.

Ketika seseorang diluar sana dengan lantang mengatakan bahwa Alkitab adalah palsu, saya hanya bisa merenung dan berpikir 'kalo Alkitab adalah palsu, lantas yang aslinya yang mana? Dimana?' Bukankah yang asli dulu baru ada yang palsu? Darimana logikanya yang palsu dulu baru datang yang asli? Bukankah ini logika konyol?.

Okelah kita anggap Alkitab palsu, namun saya tidak menemukan ajaran yang bertentangan dengan hati nurani saya di Alkitab. Jika kamu mengatakan bahwa kalimat “doakanlah musuh-musuh yang hendak mencelakaimu” adalah palsu, maka lebih baik saya mempercayai yang palsu itu dari pada yang asli. Sebab yang asli berarti menyuruh saya untuk membunuh yang memusuhi saya dan yang hendak mencelakai saya. Wah, saya tidak punya nyali untuk melakukan itu. Kalau kamu katakan bahwa kalimat “berilah makan kepada yang kelaparan, berilah minum kepada yang kehausan, berilah selimut kepada yang kedinginan” adalah palsu, maka paling saya katakan padamu bahwa yang palsu itu lebih baik dari yang asli, sebab yang asli berarti menyuruh saya untuk memeras yang kelaparan, menyuruh saya untuk menghindari yang kehausan, dan menyingkirkan orang yang kedinginan. Lantas, apakah saya harus percaya dengan yang asli jika demikian adanya? Tidak, sebab hati nurani saya bertentangan dengan ajaran dari kitab yang asli yang kamu maksud.

silahkan berkomentar dengan sopan

Click to comment